Kopi-ku

Kopi ku sudah basi, sebab mulutku tak mampu lagi menyentuhnya.
Puisi tetap mengalir dengan ritme yang sama, tanpa adanya kopi yang pernah jadi objeknya.
Kopi ku cemburu, sebab tergantikan oleh teh pekat.
Kini puisi ku pun berselingkuh dengan pekatnya teh yang hangat.

Iklan

Menuju ke-Baik

Saat sekarang ini, orang-orang sudah berlomba-lomba untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Karena melihat fakta atas kemungkinan akan tetap berada pada situasi kehidupan diri yang kotor dan jauh dari nilai-nilai kebaikan telah menjadi situasi yang membosankan dan rasa-rasanya tak pernah memberikan faedah dan kemaslahatan, terkhusus bagi diri sendiri. Lalu kemudian banyak yang sekarang melangkah menuju sebuah acara keagamaan, dengan harapan melalui acara tersebut perubahan menuju kepada kebaikan akan menjadi lancar dan mampu lebih meneguhkan hati para manusia yang mengikutinya. Tapi ada hal yang perlu diketahui dan mesti di pikirkan, bahwa menuju kepada sebuah kebaikan, akan melewati berbagai macam rintangan dan godaan. Sebab, diri yang akan diajak menuju kepada hal tersebut masih belum terbiasa, sehingga diperlukan hati dan pikiran yang teguh dan tak mungkin tergoyahkan lagi. Maka dari itu, kesiapan dirilah yang perlu di perlu dimantapkan.

Bimbinglah

Aku ingin sekali mengenal Mu
Tapi,Bagaimana bisa
Tapi,Bagaimana caranya

Aku ingin selalu berada disisiMu
Aku ingin selalu berjalan di jalanMu
Aku ingin menjadi kekasihMu

Sudah sering ku berzikir. Tapi rasa dekat , rasa kenal, rasa dicintai olehMu masih jauh, bahkan jauh sekali. Aku belum merasa mengenalMu.

Bimbinglah jiwaku, untuk mendekat padaMu.
Bimbinglah aku,bimbinglah aku.
Jangan Kau palingkan rahmat Mu padaku.
Jangan Kau jauhkan ridho Mu padaku.

Aku tak ingin jadi manusia yang hina
Aku tak ingin jadi manusia yang di perbudak dunia
Aku tak ingin jadi manusia yang di perbudak nafsu

Bimbinglah aku, Bimbinglah jiwaku selalu.

Izinkan aku melihat,mendengar dan berjalan sesuai apa yang engkau ridhoi.

Ber-u-bah

Senja tetaplah sama.
Senyummu saja yang beda.
Wangi bunga tetaplah sama.
Indra mu saja yang mulai menua.

Pergi…

Kini, kau sudah menemukan kebahagiaan yang hakiki disana.

Untaian doa-doa mengiringi perjalanan mu ketempat yang abadi.

Semesta akan selalu mengingat keberadaanmu yang pernah ada di dunia ini. Sebab begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang kau berikan dengan suka rela.

Kau, salah satu penulis blog yang saya kagumi. Penulis yang jujur. Selamat jalan, bang shiq4.

https://wp.me/p5vGKz-1fH

Membaca

Membaca bagi kami adalah sebuah kegiatan untuk menertawai diri kami yang selalu punya prasangka bahwa ilmu dan pengetahuan sudah kami miliki. Dan lewat membaca pula kami mendapat sebuah inspirasi untuk menertawakan orang lain yang selalu mencipta dan membuat logika terbalik. Dimana, orang semacam itu selalu mengatakan bahwa yang membaca itu, cuma orang sombong apalagi yang melakukannya di ruang publik. Kemudian menilai para pembaca cuma ingin dinilai pandai dan sarat dengan pengetahuan. Padahal, bukankah orang yang membaca itu sebenarnya orang yang mengetahui dirinya bahwa dia itu tidak tahu, sehingga dia membaca dan mencari ilmu pengetahuan?.

Entah apa judulnya

Menjelang pengumandangan adzan magrib, seorang anak muda sedang menyiapkan diri untuk berangkat ke sebuah mesjid dekat rumahnya. Kebiasaan yang selalu atau dilakukan oleh penganut agama tertentu. Memang persiapan itu perlu, sehingga menghasilkan sesuatu yang menjadi tujuan. Itupun berlaku pada proses ritual keagamaan.

Tapi bukan persolan keagamaan yang akan saya dibicarakan atau ungkapkan saat ini, karena saya sangat kurang berkompeten di bidang itu. Ada soal lain yang akan saya keluarkan dari pikiran saya yang selalu berharap untuk dibahasakan lewat tulisan, sekalian saya belajar menulis lah. Yaitu terkait cara pandang dan judgement (mengadili). Dua persoalan itu yang akhir-akhir ini selalu saja mengusik, melihat realita yang terjadi disekeliling dan sekaligus yang saya alami.

Dibeberapa hari ini, saya sering melihat orang perorang tanpa sadar ataupun sebaliknya sering melakukan hal demikian mengagetkan bagi saya. Mereka secara frontal menjudge orang lain yang notabene berbeda paham dengan dirinya bersalah, sehingga tak tak jarang menyulut bara api kemarahan dari yang lainnya, karena yang lain pun tak juga ingin disudutkan dan dipersalahkan. Padahal, jika semestinya mereka berpikir dengan jernih dan bijaksana, maka persoalan tersebut takkan terjadi. Saya ingin sekali melihat manusia-manusia diera yang serba terbuka ini, tak melakukan hal demikian naifnya. Mestinya prilaku bijaksana ini dikembalikan dan diaplikasikan pada diri masing-masing lagi, dan selalu berpikir bahwa tak selayaknya kita memaksakan orang lain sama cara pandangnya dengan kita. Bukankah perbedaan itu adalah sebuah rahmat, dan bukankah pula perbedaan cara pandang itu bernilai positif, yang mengakibatkan kita bisa meluaskan kembali cakrawala pengetahuan kita akibat perbedaan itu.

Suatu waktu saya pernah membaca sebuah kata pengantar yang di uraikan oleh dari nurcholis majid dalam sebuah buku tentang dirinya yang mengatakan bahwa nilai-nilai keadilan, pluralisme yang ada pada bangsa kita ini adalah sebuah kebetulan, belum merupakan kesadaran-kesadaran prinsipil. Akibatnya kita sering membicarakan persolan pluralisme dan keberagaman misalnya, namun yang terjadi kenyataannya malah bertolak belakang. Pikir saya perkataan bapak nurcholis majid tersebut masih relevan dengan keadaan yang terjadi di sekeliling saya.

Gunung adalah makhluk

Kenangan tentang pencapaian di dalam penaklukan sebuah puncak gunung, di waktu yang lalu. Ketika masih berpikir gunung itu cuma dijadikan sebagai objek untuk memuaskan hasrat saja. Tanpa ada sebuah pikiran yang lain, dimana gunung juga mesti diyakini sebagai makhluk yang sebenarnya mempunyai peran sentral dalam penyeimbang di alam semesta. Bahkan lebih daripada itu. Maka pandang lah Dia juga sebagai makhluk. Sehingga di kemudian hari tak ada kemungkinan yang terjadi untuk mengeksploitasinya, ketika gunung tersebut sudah tak memberikan manfaat bagi diri kita sendiri. Bukankah kita ini adalah makhluk yang di ciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah, untuk menjadi dan merawat segala apa yang di amanahkan pada kita, termasuk gunung tersebut. Sehingga hidup kita lebih bermakna dan selalu bermanfaat untuk semua.

Zaman milenial

Sudah banyak nilai-nilai yang hilang dalam sebuah proses bermasyarakat akhir-akhir ini. Tak seperti dahulu. Kini, terlalu banyaknya orang yang membawa kefanatikannya di dalam pergaulan. Sehingga, tak jarang menimbulkan sebuah chaos. Apakah mungkin ini sikap yang secara tak sadar dilahirkan di dalam sebuah zaman yang bernama milenial? .

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑