Hari pertama

Hari pertama setelah lebaran. Euforia hari raya masih sangat nampak kental di pelupuk mata. Silaturrahmi menjadi agenda tahunan bagi manusia-manusia yang meninggalkan kampung halaman. Mereka kembali menjenguk kenangan-kenangan masa kecil yang jarang sekali di nostalgiakan dengan sanak saudara. Cinta monyet pun tak lupa untuk di sambangi. Berbagai macam aneka makanan dan minuman disuguhkan di atas meja, untuk melengkapi perbincangan

Penghujung…

Penghujung ramadhan yang begitu romantis, 

Sahut-sahutan suara Takbir memuji Tuhan, seakan seirama dengan hujan yang turun membasahi atap-atap rumah di sebuah desa. Beberapa persiapan telah dilakukan untuj menyambut hari kemenangan. Tak lupa pula rasa sedih menyelinap masuk ke relung hati.Ramadhan akan berlalu. Berbagai puja dan puji sedang terucap. Doa-doa beterbangan menuju kepada Sang pemilik Kehidupan. Akankah Ramadhan selanjutnya ingin bertemu lagi dengan kita?.

Bontotiro, 23/06/2017

Jika saya sudah berada di kampung halaman yang begitu bersahabat. Rasa-rasanya iri dalam hati hilang seketika. Rasa iri sebab kampung halaman saya lambat berjalan menuju pada modernitas. Namun dibalik kelambatannya berjalan, saya punya rasa bangga terhadapnya. Sebab kampung selalau saja memberikan kehangatan dalam hal berkomunikasi dengan orang-orang, dan selalu saja ada rasa peduli tinggi yang di hadirkannya, tak seperti dengan kota yang pernah saya kunjungi. 

Matangkan Persiapan

Kami tak bisa lagi membayangkan tentang sebuah kegiatan yang akan menyatukan orang yang berjumlah banyak, jika nantinya yang akan di mandatkan untuk bekerja belum matang dalam hal persiapan. Sebab kegiatan seperti ini perlu persiapan yang begitu baik sehingga hasil yang di harapkan pun akan baik pula nantinya. Persoalan seperti ini mungkin banyak orang yang mengalami.

Kisah cinta dalam Alam Khayali

Bahkan di dalam alam khayali ku, begitu banyak kisah cinta yang sempat berlalu lalang, dan semuanya selalu berakhir dengan penuh kebahagiaan. Kisah cinta yang  ku buat sendiri, dan ku atur sendiri alur ceritanya, sehingga kebahagiaan lah yang selalu terasa didalamnya. Aku tak mau membuat skenario lain, misalnya memasukkan bumbu-bumbu kepahitan dalam percintaan didalamnya, sebab aku sudah bosan melihat semua kepahitan itu. Walaupun aku tak memasukkan skenario kepahitan didalamnya pun, tetap saja kisah cinta yang  ku buat dengan penuh kebahagiaan itu berwarna. Tapi warnanya tidak beragam.

Tamarunang, 11 juni 2017

Ku pakai dengan perlahan topeng itu agar menutupi wajahku, dan ku buat panggung yang se-meriah mungkin untuk menutupi kebusukan tingkah ku.

Pemikiran dan perilaku yang ku punya ini bukan lagi milikku yang asli dan sebenarnya. Semuanya telah ku kolaborasi dengan milik orang lain yang aku curi ketika beberapa kali bertemu dengannya.

Wajah-wajah yang penuh kepalsuan pun, kian ku ajak berkawan. Tak perdulikan bagaimana pikiran manusia-manusia suci ketika melihatnya.

Taman baca yang selalu berharap diselesaikan…

Sudah hampir dua tahun waktu kita habiskan tak menentu, padahal konsep ataupun mimpi untuk membuat taman baca masyarakat tak kunjung juga selesai dan dapat dinikmati oleh warga sekitar. Beberapa bulan yang lalu saya melihat postingan teman, tentang perkembangan taman baca masyarakat yang kami ingin buat. Saya melihat sebuah rangka rumah perpustakaan sederhana, namun saat ini belum juga terwujud. Semua itu terkendala oleh sesuatu yang menurut saya sudah klasik, yaitu perihal uang yang belum cukup untuk merampungkan pembangunan.

Jika saya ingin mengingat tentang sebuah memori, dimana dahulu semangat kami menggebu-gebu untuk membuat sebuah perpustakan kecil di pelosok. Saat itu saya sangat optimis, bahwa semua ini akan terwujud dengan waktu yang singkat, melihat bagaimana motivasi dan antusias teman-teman yang tinggi. Namun, perlahan semua itu mulai memudar dalam diri. Semangat yang dahulunya membara, kini kian meredup secara perlahan. Mudah-mudahan api motivasi itu tak mati total nantinya.

Saat ini, saya merasa terpukul ketika melihat sebuah talkshow dimana tamu yang di undang dalam acara tersebut adalah seorang penggiat literasi yang gigih dalam hal perjuangan. Ingin rasanya dalam benak saya seperti mereka, turun membantu pemerintah dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa melalui meningkatkan motivasi membaca masyarakatnya. Walaupun kebiasaan membaca itu kadang pula tak menghampiri diri saya sendiri.

Pernah beberapa waktu yang lalu, saya bertanya kepada seorang teman yang tergabung dalam perencanaan pembuatan taman baca tersebut. Saya bertanya perihal kapan ada waktu untuk kembali membicarakan kelansungan pembangunan taman baca, sebab mungkin masyarakat di tempat dimana perpustakaan itu berdiri nantinya juga sudah tak sabar menunggu penyelesaian perpustakaan itu. Namun teman saya cuma menjawab tidak tahu, mungkin di juga dilanda rasa kebingungan.

Memang, perlahan anggota kami mulai disibukkan dengan aktivitas ataupun pekerjaan yang menyita waktu untuk sekedar berpikir terhadap keberlansungan taman baca. Kadang pula saya berpikir begini, ” inilah tantangan yang mesti dihadapi dan mesti di olah dengan baik ataupun tetap di barakan yaitu ketidakkonsistenan dalam melakukan sebuah pekerjaan”.