Kematian

Derap langkah, peziarah kian menjauh.
Ku saksikan dalam hayalku akan tubuhku yang terbaring didalam sana. Sendiri, sepi.
Disana aku menunggu, menunggu giliranku untuk di ajak berbincang oleh pesuruhMu, perihal Cinta ku padaMu.

Sedang kini di ketersadaranku, aku tak lagi sanggup melafadzkan nama AgungMu lewat mulutku yang begitu lama kotor.
Dan juga malu meminjam bait-bait doa yang pernah diajarkan kekasihMu.
Sebab, semua itu tak pernah ku usahakan.
Aku takut. Takut kelak tak mampu berkata-kata  di hadapanMu jika kita bertemu.

Aku, kau, dan Kekasih kita.

Jika Kekasihku memanggil mu sayangku, datanglah. Sebab Dia juga sebenarnya Kekasih mu. Dia, yang tak pernah jauh dari kita, bahkan begitu dekat dan lekat dengan diri kita sayangku.
Sayang, Kekasih kita itu tempatku kini kembali. Menjadi sebab awal dan utama akan hadirnya cinta kita, yang akan kembali kujadikan tempat awal untuk membicarakan keingananku bersamamu selamanya. Karena Dia, segala tahu tentangmu, tentang aku, dan tentang kita.
Sayangku, ternyata kau lebih dekat yah dengan Dia, selalu aktif bercengkrama dengannya, apakah pernah kau sebut namaku didalam perbincanganmu itu?.
Sayang, sejak ketika kutahu bahwa kau sering bersama Kekasih kita itu, begitu banyak perubahan suci yang terjadi padamu.
Sayangku, semoga dekat-dekat ini. Kita bertiga bisa bersama bercengkrama, berbincang tentang masa lalu kita yang penuh warna dan memadukan kisah Cinta Suci didalam keinginan Kekasih kita itu.

Kosong

Kutengadahkan tanganku ke langit,
Kutunjuk langit dengan penuh keyakinan,
Sementara hati dan pikiran ku terasa kosong dari nilai-nilai yang suci.
Jauh jarak kulangkahkan kakiku,
Banyak kata tanya ku lontarkan,
Kuselami kedalaman hati,
Namun, tak ada sekata pun jawaban membisik yang mampu membangkitkan lagi kondisi kosong itu.

Makassar, 2 februari 2021

Mandat dan Tanggungjawab

Hei. Ku beri kau sebuah mandat untuk menjaga keseimbangan. Dan ku lengkapi perjalanan mu itu dengan bekal yang baik, sehingga kelak kau mampu melewatinya dengan mudah. Ku peringatkan padamu, bahwa ada begitu banyak rintangan yang kelak akan kau hadapi, namun di lain sisi ku berikan pula solusi untuk menghadapinya. Kelak, ketika waktunya telah tiba. Kau akan Ku panggil kembali kesisi Ku, Aku ingin menyaksikan pertanggungjawaban darimu. Semoga kelak ketika kita bertemu, kabar baiklah yang ku dengar darimu.

Ma,

Ma, sadarilah.
Bahwa manusia soal perasaan dan laku perbuatannya, mudah sekali berubah.
Selama mereka masih berstatus hidup.
Jangan mudah untuk menyimpulkan semua tingkah lakunya, apalagi jika baru sebentar kau mengenalnya.


Ma, baliklah.
Kita kembali saja ke kehidupan dan cara berpikir, dimana menilai seseorang biasa-biasa saja. Jangan mudah silau dari tingkah laku mereka yang menyedihkan dan juga yang menggembirakan.


Ma, percayalah.
Mereka itu, milik kehidupannya.
Baik dan buruknya, tergantung bagaimana dunia mengajarinya dan bagaimana mereka pula memperlakukan dunia.


Ma, nikmatilah.
Tetaplah fokus bersyukur akan nikmat semesta yang diberikan pada kita.
Jangan biarkan fikiran negatif di sekeliling kita, malah mengganggu kebahagiaan yang selama ini kita miliki.

Mati

Memang benar, mati adalah takdir yang tak bisa kita tentukan waktunya.
Bagaimana pun kerasnya perjuangan untuk menghindarinya, menjauhinya, dan tak menginginkanya.
Tetap saja mati itu akan datang di hadapanmu. Bertamu ke dirimu, atau hanya menyapa lewat keluarga mu.
Tiada hal untuk menjamunya dengan baik, sehingga peraasaan senang senang menjadi bagian kita ketika dia datang, selain persiapan yang baik di waktu dahulu, saat ini, dan kedepannya.

Malam Terindah…

Maka berbahagia lah mereka, yang ketika di gelapnya malam. Mereka menyaksikan sebuah kondisi yang sangat rahasia itu. Dengan kesiapan dan persiapan yang matang. Yaitu malam dimana semua malam yang tak mampu menandinginya, di karena malam itu waktu yang berpetapan dengan diturunkannya semua kebaikan yang tiada tara ke dunia lewat perantara suci kepada sang penghulu manusia. Maka dari itu jika kelak kita ingin pula merasakannya, aturlah persiapan pula. Selalu lah mengingat padaNya dan juga berkirim salam lah pada kekasihNya, semoga kelak di dimensi lain. Kita bisa bertemu dengan kekasihNya dan juga bertemu lansung dengan pemilik sejati diri kita itu. Amin.

Aku ini cuma penikmat

Makin hari, rasanya keinginan ku mengasah diri untuk bisa menulis kian menjadi surut. Tak pernah ada terbersit judul ataupun tema-tema dalam kepalaku yang menarik, sehingga kemudian mampu membuat berpuluh bahkan ratusan kata ku terangkai dan tersalurkan lewat tulisan itu. Bahkan setelah ketika ku pantik melalui membaca berbagai macam buku. Rasanya, aku ini memang tak punya kelihaian menuju kesana. Karena, jika ku bandingkan dengan kawan-kawan ku yang dilain sisi gemar membaca di pula lihai memainkan kata lewat tulisannya yang baik, aku ini sangat jauh ketinggalan. Mungkin, aku ini cuma bisa jadi penikmat saja atas berbagai macam tulisan-tulisan seseorang yang belum dan bahkan yang sudah terbukukan. Dan juga merenungi betapa kerasnya kerja otak seorang penulis sehingga mwmenghasilkan karya-karya yang begitu inspiratif dan berisi pengetahun yang segar.

Bulukumba, 29 april 2020

Buka…

Sayangku, kita mesti kembali.
Kembali membuka diri untuk segala macam perdebatan di luar sana.
Kembali membuka dan membebaskan pikiran untuk terbang jauh mencari kepingan-kepingan kebenaran.
Namun, kau tetap ingat adakan Dia di setiap hal yang kita lakukan itu.

Bulukumba, 27 april 2020

Hari kedua Puasa

Hari kedua puasa. Tak ada kalimat-kalimat lain yang mesti terucap selain rasa syukur. Kita masih di beri kekuatan dan kesempatan untuk tetap beribadah, walaupun kita hanya melakukanya di rumah.

Bukukumba, 25 april 2020

Mulai.

Disaat-saat sekarang ini, dimana dunia dan terkhusus negara kita yang sedang dilanda wabah virus yang bernama corona. Mungkin akan lebih baik jika kita mengambil jalan untuk tidak  ikut menonton tv  yang kebanyakan membahas virus corona namun sayang bukan ahli di bidang tersebut yang menjelaskannya, atau keseringan menajamkan mata di depan layar handphone dan aktif membuat status dan berkomentar tentang corona juga, Yang dimana sebenarnya kita tak sangat paham akan virus itu. Jangan ikut-ikutan menambah pengetahuan yang statusnya sepotong-sepotong. Kasihan orang yang begitu mudahnya menelan semua informasi. Kita cukup mencari informasi dari sang ahli dibidang tersebut. Lalu kemudian mencoba untuk menerapkan arahan darinya. Cukup begitu saja.

Bulukumba, 20 april 2020.

Cerita selama di Desa

‌”Kita ini cuma petani yang kebetulan menjadi pegawai negeri. Hidup dan kegiatan kita selama ini lebih banyak bersentuhan dengan dunia pertanian, yah syukurlah kita ini diwaktu lalu diangkat jadi pegawai negeri, untuk mengambil peran lain lagi sebagai pengabdi pada negara, guna mencerdaskan generasi-generasi pelanjut kemerdekaan bangsa”, ini  tafsiran saya atas obrolan-obrolan selama berada di desa, entah itu dengan orang tua di rumah. Dan memang itu fakta, sebab keluarga kami memang kebanyakan bergelut di dunia pertanian. Yah, kadang saya berpikir guru itu mungkin memang cuma pekerjaan sampingan orang tua saya.

‌Selama di desa beberapa minggu, saya memaksimalkan untuk terjun lansung menemani orangtua menyusuri merahnya tanah. Karena memang kalau bukan saya, siapa lagi. Dan juga hitung-hitung membuka lagi  ruang rindu atas kenangan masa kanak-kanak, yang dahulu memang selalu diajak berkebun, cuma setelah melanjutkan sekolah di kota saja sehingga waktu untuk bertani itu agak jarang. Dan juga kebetulan untuk situasi sekarang saya belum ada kerjaan tetap dan juga belum mencari pekerjaan baru lagi.

‌ Walaupun begitu banyak pertanyaan yang timbul oleh orang-orang yang menurut saya aneh. Misalnya, kan kamu lulusan Sarjana atau magister, kok mau sih pergi berkebun. Dan lain lagi, kok mobil pribadi yang ketutup begitu atau bisa dikatakan tao layak untuk masuk ke jalan-jalan becek akaibat hujan kau bawa ke kebun, kan tidak cocok. Hahaa. Hei, apa yang salah dengan sarjana yang kembali ke desanya untuk menemani orangtuanya bertani?, Begitu hina kah seorang sarjana ketika kembali ke desa untuk jadi petani?. Dan juga apa salahnya dengan mobil yang dinilai elite, keren, dipakai masuk ke kebun?. Mobil itu harus berfungsi menurut saya, dan saya akan fungsikan untuk mengangkut hasil pertanian. Daripada tinggal dirumah terparkir dan rusak kan.


Lockdown

Dalam situasi dan kondisi perintah untuk lockdown dan penganjuran untuk berdiam diri di rumah dengan waktu yang belum menentu akhirnya. Semestinya kita sikapi dengan baik dan berpikir yang positif. Sebab, untuk sementara itulah langkah yang tepat untuk meminimalisir proses persebaran virus dari tubuh ke tubuh. Di lain sisi pula, kita bisa menggali hikmah dibalik kejadian ini. Misal, lebih banyaknya waktu yang kita habiskan bersama keluarga, yang mungkin sebelum-sebelumnya jarang kita lakukan.  Dan di lain sisi pula, kita jadikan waktu dirumah sebagai ruang untuk perenungan atas semua hak yang pernah kita lalui, apakah mungkin aktivitas diluar rumah yang selama ini kita jalani, berdampak baik bagi kemaslahatan atau tidak. Jika tidak, bolehlah kita menata konsep dan membuat misi pribadi untuk mengubahnya, sehingga kelak ketika bencana ini berlalu dan kita kembali berkativitas di luar, hanya kebaikan saja yang kita perbuat. “Proses lockdow bisa kita jadikan sebagai langkah untuk mengevaluasi”.

Akankah?

Dahulu, sebelum corona bertamu ke negeri kita. Begitu banyak puisi-puisi yang tercipta, dan selalu bercerita tentang senja, kopi, dan rembulan. Tak pernah muncul puisi yang mengangkat tentang perihnya kemiskinan, pedihnya penindasan, dan juga tentang kemanusiaan. Apakah mungkin, lewat momen virus corona ini. Kita atau aku, akan jumpai lagi puisi yang lahir dari pengalaman tentang indahnya melanggengkan kedamaian dalam ranah kemanusiaan.

Dia lah

Harta.
Nyawa.
Kegembiraan.
Kesedihan.
Hidup.
Mati.
Bukan kita yang tentukan atas diri kita pribadi, terlebih untuk orang lain.Tak ada kuasa atas diri sendiri. Dia lah pemegang Kekuasaan sesungguhnya. Dia yang selalu disamakan dengan yang lain, padahal yang lain ini Dia jua yang ciptakan. Dia yang selalu dimintai pertolongan setiap saatnya, namun sangat jarang kita ucapkan rasa syukur yang mendalam atas semua yang telah Dia berikan. Dia yang selalu memberi semua kebutuhan di dunia ini, tanpa ada pembedaan antara satu dan lainnya, baik pada yang taat atau yang tidak sama sekali. Dia lah, yang namanya sangat suci untuk diucapkan oleh mulut-mulut pendosa.

Untuk Ibu mu yang baik.

Di teriknya mentari siang itu. Ku lihat mata mu mengeluarkan air mata kesedihan. Kesedihan yang amat sangat sedih, sebab kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, ibu mu. Tak kuasa ku melihat momen seperti itu. Tak terbayangkan, ketika semua itu terjadi padaku. Mungkin saja, aku tak setegar mu menghadapinya. Karena kupastikan diriku lebih rapuh darimu sebenarnya, walaupun kelihatan dari luarnya aku begitu kuat dan acuh soal yang begituan.  Padahal sangat kuyakini, bahwa perpisahan seperti itu akan selalu diperhadapkan pada setiap insan.

Ada rasa sesal pada diriku setelah hari itu. Kenapa, aku tak cepat ke rumah mu atau terlambat mengetahui kondisi yang kau alami.  Dan juga, tak sempat pula aku meminta maaf pada ibu mu. Padahal dosaku terhadapnya begitu banyak.

Dan semoga kedepan, kelak aku bisa menebus semua dosaku terhadapnya, lewat jalinan silaturahmi kita. Dan juga semoga kau masih bisa membuka jalan silaturahmi ini.

Semoga, ibu mu di alam sana berbahagia dan mendapat tempat yang terbaik, berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Amin.

Ada Rindu “Untukmu” versi cover.


Kapan lagi kita berbincang
Dan berterus terang
Kapan
Kapankah lagi
Kurasakan sunyi mencekam
Hatipun tersiksa
Ada rindu untukmu
Seputih gaunmu kekasih
Begitu hatiku
Tak ingin kau jauh dariku
Lembutnya sinar di matamu
sayang (sayang)
Kau begitu seadanya
Namun bergetar sendu
Hati ini

Lagu yang dipopulerkan oleh pance pondaag dan di cover oleh vanny vabiola . Bisa dijadikan perwakilan bagi diri yang sedang dilanda kerinduan. Keren lagunya.

Saatnya mengolah rasa.

Awal tahun yang dingin oleh hujan, dan telinga sebelah kiri yang tak begitu berfungsi dengan baik, mungkin sedang ada yang mengganjal didalam sehingga frekuensi suara tak mampu menembus dengan maksimal. Tapi, itu semu bukan halangan untuk tetap menikmati hidup kedepan dengan bergembira ria. Asal fikiran tetap di fokuskan pada sebuah ruang dan dimensi yang positif. Mungkin saja Tuhan memberikan hujan di awal tahun, untuk mengajarkan diri saya pribadi untuk tidak begitu terlalu berefouria dengan masuknya tahun yang baru, dengan cara melakukan perjalan secara leluasa. Dan juga telinga untuk sementara tak berfungsi, mungkin demi agar tak begitu leluasa pula mendengar obrolan-obrolan yang bersifat negatif dan menjurus pada sebuah kebencian oada yang lain jika sekiranya telinga ini mendengarnya. Sebab, hati ini masih terlalu lemah pula untuk tidak ikut didalamnya. Selalu akan memikirkan hal yang positif saja dan memikirkan yang baik untuk kedepannya.

Belajar jadi Guru sekaligus murid.

Sudah jarang pula aku menulis. Menuliskan tentang berbagai hal yang sempat aku alami lagi seperti yang dulu-dulu. Kesibukan tepatnya, sibuk menjalani rutinitas sebagai seorang pengajar yang masih tergolong muda dalam dunia kepengajaran. Dan juga belakangan ini aku berusaha memaksimalkan diri untuk meresapi dan melarutkan diri didalamnya. Dengan tujuan, yaitu ingin merasakan dengan khidmat bagaimana sebenarnya menjadi seorang guru itu atau pendidik. Dengan  begitu tegar menghadapi banyaknya persoalan-persoalan tentangnya. Dimulai dari menyiapkan rancangan pembelajaran sampai dengan tahap mengevaluasi. Yang mestinya harus terstruktur sehingga mencapai hasil yang baik. Di lain hal, ingin pula mengetahui dan berusaha memperbaiki karakter dan cara belajar para siswa. Dan di sudut lain, aku sendiri selalu berusaha memberikan contoh karakter yang baik padanya. Tapi bukan diriku yang jadi modelnya, tapi orang lain yang memang sudah memiliki karakter yang baik itu. Dan saat ini, ku berikan simpulan sementara, bahwa menjadi tenaga pengajar itu memang merupakan suatu kerjaan yang sulit. “Salam hormat pada mu, guruku”.







Dari anak kecil.

Tuan, puan.
Aku tak ingin lagi melihat orang-orang yang katanya hobbi menulis, tapi tulisan yang di hamparkan dan hamburkan cuma bernada benci.

Tuan, puan.
Berikan atau buatkan aku sebuah karya tulisan yang bisa bernada kegembiraan, cinta, dan keindahan. Untuk menandinginya.

Sebab, jika itu tak kau lakukan. Bisa saja kelak diriku ini juga bisa terdoktrin dan membuat hal yang demikian. Padahal, yang ku ingini selama ini. Hanya Cinta, Kebaikan, dan juga Keindahan.

Seorang Tua mengajak merefleksi diri

Keluar dari ruangan peribadahan, ku bertemu dengan seorang tua yang lansung menyapa dan mengajak berbincang persoalan iman dan kematian. Lansung saja seketika dadaku merasa sesak dan nafas tak begitu teratur. Ku diberi perenungan tentang keimanan olehnya, dan juga tentang kematian di lain hal. Mungkin karena sudah sejak lama diriku sesak dan tersesaki oleh hal keduniawian, yang begitu rutin ku masukkan dalam diriku. Sehingga tak menimbulkan dan memberikan ruang yang lebih lebar untuk diisi oleh keimanan dan kecintaan pada Tuhan. Tuhan, seakan cuma nama yang begitu ku nilai tak spesial, ketika semua bentuk keduniawian itu sedang berada pada diriku. Sehingga terkadang disetiap sunyi ku, tak juga ku mampu merefleksi diri. Apakah Aku ini sudah beriman secara benar dan baik?. Atau tidak.

Kesakralan mulai luntur.

Kusaksikan. Bahwa kata janji dan sumpah untuk membuat perubahan kearah yang baik, cuma berada dan betengger di lisan saja. Sang yang punya kata itu, tak begitu mampu melaksanakan. Banyak kendala, katanya. Di mulai dari memang kata yang keluar itu, cuma tujuannya untuk mencari suara untuk memuluskan ambisinya menjadi penguasa, dan juga ada hal yang memberatkan langkahnya karena ada bisikan-bisikan yang lain. Itulah realitanya. Sehingga, untuk sekarang dan mungkin kedepannya. Manusia-manusia tak begitu lagi punya niatan untuk ikut andil dalam hal peraihan kekuasaan oleh sebagian manusia lainnya. Sebab, sudah terlalu banyak bukti, bahwa janji yang sekarang diucapkan kedepannya belum tentu akan menjadi nyata dalam perilaku. Tak ada lagi nilai sakral dalam kata JANJI itu.

Rasa itu ada.

Kerjaanku sekarang cuma mengenang. Mengenang masa lalu bersamamu yang begitu asyik. Semua rasa kita nikmati. Suka, duka, sedih, bahagia. Semua menyatu dan mewarnai kehidupan kita. Seakan rasa ini ingin memperlihatkan eksistensinya, bahwa sebenarnya mereka itu ada.

Engkau lah Bunga itu.

Kuntum mawar yang harum semerbak, kucium lagi,

Semakin wangi aromanya,
Semakin memesona tubuhnya,
Semakin memikat dipandangan,

Kau lah, yang ku maksud,
Senyummu kian memesona,
Cara berpikir mu semakin tertata,
Tampilan mu, semakin meneduhkan.

“Jika”

Jika ingin merasakan sakitnya disakiti, maka ambil lah langkah untuk mengujinya, contoh kecilnya cubit dirimu sendiri.

Jika ingin merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam, maka berusaha lah untuk pernah mengalami penderitaan.

Jika ingin menikmati dan merasakan indahnya dalam mencinta yang universial, maka mulai lah dengan mencintai dirimu sendiri.

Quo vadis Indonesia

Setelah berminggu-minggu membaca sebuah buku dari seorang penulis yang menurut saya tulisannya keluar dari sebuah keresahan, pengamatan akan situasi negerinya. Membuat saya pula begitu larut, dan secara lansung tanpa berpikir panjang untuk mengiyakan semua yang di tuliskannya. Banyak masalah di ungkap, tapi dari hasil ungkapan dengan kalimat-kalimat sederhana yang di tuangkan, akan begitu mudah di cerna dan dipikirkan pula solusi yang tepat untuk mengatasinya. Itu pun kalau kita membacanya secara reflektif. Sebab semua kejadian yang digambarkan, memang pernah dan sedang terjadi.

Judul buku itu quo vadis Indonesia, yang kurang lebih terjemahannya yaitu mau di bawa kemana indonesia. Lebih jauh lagi, biasa saya berpikir seandainya saja elite-elite yang bekerja di pemerintahan selalu menyempatkan waktu mencari dan membaca berbagai macam buku yang bernada kritik dan juga punya solusi yang membangun, lalu kemudian turun ke lapangan menyaksikan dan mengonfirmasi kebenaran dari narasi-narasi buku yang semacam itu, mungkin saja mereka akan mendapat sedikit, bahkan banyak gambaran untuk melangkah jauh dalam mengambil kebijakan yang adil pada masyarakat yang di pimpinnya, misalnya. Dan pikir saya, seyogyanya seperti itulah jika kita menjadi seorang pemimpin, berani mendengar aspirasi rakyat dengan berbagai macam cara penyampaiannya.  Tak boleh lagi ada pikiran, bahwa “kritikan itu cuma akan mengganggu dan merupakan bentuk dari ketidaksukaan pada kita”. Bukankah sebenarnya kritikan itu sebuah bentuk kepedulian, sehingga dikemudian hari kita bisa menjadi pribadi atau kelompok yang lebih baik dan mapan dalam mengambil sikap.

“Buku dari bapak Ishak Ngeljaratan”

Jangan.

Jangan selalu merasa pandai, sehingga masih ada ruang kosong pada dirimu untuk bisa diluangkan pada pencararian ilmu dan pengetahuan baru.

Jangan selalu merasa sudah suci dan bersih dari hal-hal negatif, sehingga dirimu masih bisa digerakkan untuk selalu mencari kebaikan.

Jiwa

Jiwa mu akan tenang, jika kau selalu melakukan kebaikan.

Jiwa mu akan senang, jika semuanya selalu kau pasrahkan pada Tuhan. Dan selalu berusahan kembali pada jalan yang sudah ditentukanNya.