Malam Terindah…

Maka berbahagia lah mereka, yang ketika di gelapnya malam. Mereka menyaksikan sebuah kondisi yang sangat rahasia itu. Dengan kesiapan dan persiapan yang matang. Yaitu malam dimana semua malam yang tak mampu menandinginya, di karena malam itu waktu yang berpetapan dengan diturunkannya semua kebaikan yang tiada tara ke dunia lewat perantara suci kepada sang penghulu manusia. Maka dari itu jika kelak kita ingin pula merasakannya, aturlah persiapan pula. Selalu lah mengingat padaNya dan juga berkirim salam lah pada kekasihNya, semoga kelak di dimensi lain. Kita bisa bertemu dengan kekasihNya dan juga bertemu lansung dengan pemilik sejati diri kita itu. Amin.

Aku ini cuma penikmat

Makin hari, rasanya keinginan ku mengasah diri untuk bisa menulis kian menjadi surut. Tak pernah ada terbersit judul ataupun tema-tema dalam kepalaku yang menarik, sehingga kemudian mampu membuat berpuluh bahkan ratusan kata ku terangkai dan tersalurkan lewat tulisan itu. Bahkan setelah ketika ku pantik melalui membaca berbagai macam buku. Rasanya, aku ini memang tak punya kelihaian menuju kesana. Karena, jika ku bandingkan dengan kawan-kawan ku yang dilain sisi gemar membaca di pula lihai memainkan kata lewat tulisannya yang baik, aku ini sangat jauh ketinggalan. Mungkin, aku ini cuma bisa jadi penikmat saja atas berbagai macam tulisan-tulisan seseorang yang belum dan bahkan yang sudah terbukukan. Dan juga merenungi betapa kerasnya kerja otak seorang penulis sehingga mwmenghasilkan karya-karya yang begitu inspiratif dan berisi pengetahun yang segar.

Bulukumba, 29 april 2020

Mulai.

Disaat-saat sekarang ini, dimana dunia dan terkhusus negara kita yang sedang dilanda wabah virus yang bernama corona. Mungkin akan lebih baik jika kita mengambil jalan untuk tidak  ikut menonton tv  yang kebanyakan membahas virus corona namun sayang bukan ahli di bidang tersebut yang menjelaskannya, atau keseringan menajamkan mata di depan layar handphone dan aktif membuat status dan berkomentar tentang corona juga, Yang dimana sebenarnya kita tak sangat paham akan virus itu. Jangan ikut-ikutan menambah pengetahuan yang statusnya sepotong-sepotong. Kasihan orang yang begitu mudahnya menelan semua informasi. Kita cukup mencari informasi dari sang ahli dibidang tersebut. Lalu kemudian mencoba untuk menerapkan arahan darinya. Cukup begitu saja.

Bulukumba, 20 april 2020.

Cerita selama di Desa

‌”Kita ini cuma petani yang kebetulan menjadi pegawai negeri. Hidup dan kegiatan kita selama ini lebih banyak bersentuhan dengan dunia pertanian, yah syukurlah kita ini diwaktu lalu diangkat jadi pegawai negeri, untuk mengambil peran lain lagi sebagai pengabdi pada negara, guna mencerdaskan generasi-generasi pelanjut kemerdekaan bangsa”, ini  tafsiran saya atas obrolan-obrolan selama berada di desa, entah itu dengan orang tua di rumah. Dan memang itu fakta, sebab keluarga kami memang kebanyakan bergelut di dunia pertanian. Yah, kadang saya berpikir guru itu mungkin memang cuma pekerjaan sampingan orang tua saya.

‌Selama di desa beberapa minggu, saya memaksimalkan untuk terjun lansung menemani orangtua menyusuri merahnya tanah. Karena memang kalau bukan saya, siapa lagi. Dan juga hitung-hitung membuka lagi  ruang rindu atas kenangan masa kanak-kanak, yang dahulu memang selalu diajak berkebun, cuma setelah melanjutkan sekolah di kota saja sehingga waktu untuk bertani itu agak jarang. Dan juga kebetulan untuk situasi sekarang saya belum ada kerjaan tetap dan juga belum mencari pekerjaan baru lagi.

‌ Walaupun begitu banyak pertanyaan yang timbul oleh orang-orang yang menurut saya aneh. Misalnya, kan kamu lulusan Sarjana atau magister, kok mau sih pergi berkebun. Dan lain lagi, kok mobil pribadi yang ketutup begitu atau bisa dikatakan tao layak untuk masuk ke jalan-jalan becek akaibat hujan kau bawa ke kebun, kan tidak cocok. Hahaa. Hei, apa yang salah dengan sarjana yang kembali ke desanya untuk menemani orangtuanya bertani?, Begitu hina kah seorang sarjana ketika kembali ke desa untuk jadi petani?. Dan juga apa salahnya dengan mobil yang dinilai elite, keren, dipakai masuk ke kebun?. Mobil itu harus berfungsi menurut saya, dan saya akan fungsikan untuk mengangkut hasil pertanian. Daripada tinggal dirumah terparkir dan rusak kan.


Lockdown

Dalam situasi dan kondisi perintah untuk lockdown dan penganjuran untuk berdiam diri di rumah dengan waktu yang belum menentu akhirnya. Semestinya kita sikapi dengan baik dan berpikir yang positif. Sebab, untuk sementara itulah langkah yang tepat untuk meminimalisir proses persebaran virus dari tubuh ke tubuh. Di lain sisi pula, kita bisa menggali hikmah dibalik kejadian ini. Misal, lebih banyaknya waktu yang kita habiskan bersama keluarga, yang mungkin sebelum-sebelumnya jarang kita lakukan.  Dan di lain sisi pula, kita jadikan waktu dirumah sebagai ruang untuk perenungan atas semua hak yang pernah kita lalui, apakah mungkin aktivitas diluar rumah yang selama ini kita jalani, berdampak baik bagi kemaslahatan atau tidak. Jika tidak, bolehlah kita menata konsep dan membuat misi pribadi untuk mengubahnya, sehingga kelak ketika bencana ini berlalu dan kita kembali berkativitas di luar, hanya kebaikan saja yang kita perbuat. “Proses lockdow bisa kita jadikan sebagai langkah untuk mengevaluasi”.

Akankah?

Dahulu, sebelum corona bertamu ke negeri kita. Begitu banyak puisi-puisi yang tercipta, dan selalu bercerita tentang senja, kopi, dan rembulan. Tak pernah muncul puisi yang mengangkat tentang perihnya kemiskinan, pedihnya penindasan, dan juga tentang kemanusiaan. Apakah mungkin, lewat momen virus corona ini. Kita atau aku, akan jumpai lagi puisi yang lahir dari pengalaman tentang indahnya melanggengkan kedamaian dalam ranah kemanusiaan.

Dia lah

Harta.
Nyawa.
Kegembiraan.
Kesedihan.
Hidup.
Mati.
Bukan kita yang tentukan atas diri kita pribadi, terlebih untuk orang lain.Tak ada kuasa atas diri sendiri. Dia lah pemegang Kekuasaan sesungguhnya. Dia yang selalu disamakan dengan yang lain, padahal yang lain ini Dia jua yang ciptakan. Dia yang selalu dimintai pertolongan setiap saatnya, namun sangat jarang kita ucapkan rasa syukur yang mendalam atas semua yang telah Dia berikan. Dia yang selalu memberi semua kebutuhan di dunia ini, tanpa ada pembedaan antara satu dan lainnya, baik pada yang taat atau yang tidak sama sekali. Dia lah, yang namanya sangat suci untuk diucapkan oleh mulut-mulut pendosa.

Untuk Ibu mu yang baik.

Di teriknya mentari siang itu. Ku lihat mata mu mengeluarkan air mata kesedihan. Kesedihan yang amat sangat sedih, sebab kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, ibu mu. Tak kuasa ku melihat momen seperti itu. Tak terbayangkan, ketika semua itu terjadi padaku. Mungkin saja, aku tak setegar mu menghadapinya. Karena kupastikan diriku lebih rapuh darimu sebenarnya, walaupun kelihatan dari luarnya aku begitu kuat dan acuh soal yang begituan.  Padahal sangat kuyakini, bahwa perpisahan seperti itu akan selalu diperhadapkan pada setiap insan.

Ada rasa sesal pada diriku setelah hari itu. Kenapa, aku tak cepat ke rumah mu atau terlambat mengetahui kondisi yang kau alami.  Dan juga, tak sempat pula aku meminta maaf pada ibu mu. Padahal dosaku terhadapnya begitu banyak.

Dan semoga kedepan, kelak aku bisa menebus semua dosaku terhadapnya, lewat jalinan silaturahmi kita. Dan juga semoga kau masih bisa membuka jalan silaturahmi ini.

Semoga, ibu mu di alam sana berbahagia dan mendapat tempat yang terbaik, berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Amin.