Suara hati sang pencinta sunyi dan keheningan. ” Aku “.

Telah beberapa hari  menuju minggu aku benamkan diriku dalam sebuah situasi yang sedikit menjauh. Cuma warung kopi saja yang tak ku jauhi untuk saat ini. Begitu sangat terasa perbedaannya, ketika dimana hari-hari ku dahulu selalu dikelilingi oleh keramaian canda dan tawa kawan-kawan ku dan seorang yang spesial bagiku.

Semua ini kulakukan bukan tanpa alasan. Aku ingin mengambil sedikit jarak, memberi ruang pada diriku  untuk sekedar merenungi dan memikirkan masa depan yang sudah terbentang dan akan ku jalani nantinya.Untuk kalian, cuma maaf yang bisa ku ucapkan.

Kelak, ketika aku sudah merasa mulai siap untuk bertarung kembali dalam gelanggang kehidupan ini. Akan ku bawa kalian kembali lagi dan ku ikutsertakan dalam sebuah mimpi yang selama ini ku pikirkan. Dan semoga, kita bisa melaksanakannya dengan baik.

Teruntuk kau yang ku kasihi. Maaf, jika kabar dan komunikasi tak pernah kusambungkan padamu. Aku ingin, kau juga memikirkan sedikit tentang masa depanmu sendiri. Sebelum kita yang bersatu dengan usaha kita sendiri nantinya.

Belajarlah kau akrab dan berkawan dengan kesunyian. Karena, keramaian yang selama ini kau berada didalamnya, mungkin saja tak membuat dirimu menjadi diri sendiri.

Mulailah menyusun sebuah konsep-konsep untuk masa depanmu, kau belajarlah dari buku-buku ataupun orang disekitarmu. Jangan pula selalu menyempitkan ruang pergaulanmu, yang cuma ada dalam lingkaran kaum yang berada (mapan), tetapi masuklah pula dalam lingkaran para kaum papa,miskin dan termarjinalakan.

Dikemudian hari, aku ingin melihat kau dan mereka saling merangkul saat berjalan dengan kaum miskin maupun kaum kaya. Sinergikan semuanya. 

Iklan

Aku ternyata tak tahu

Ketika ku renungkan hasil dari berbagi macam bacaan yang pernah ku lahap, ada sebuah kesimpulan yang mampu ku tarik dan ambil untuk kujadikan bahan refleksi diri kedepan, dimana rasa bodoh ataupun kenaifan itu ternyata juga ada pula dalam diriku. Padahal, tanpa sadar dari waktu-waktu sebelumnya rasa itu tak pernah terpikirkan. Sehingga mengakibatkan sikap ku kian menjadi sok pintar karena merasa mengetahui segalanya, dan yang paling mengenaskan yaitu berani mengambil sikap yang frontal. Maka benar apa yang pernah di katakan oleh orang bijak, bahwa semakin kau belajar dan mencari pengetahuan baru, maka semakin kau tahu bahwa kau itu tak mengetahui apa-apa. Inilah hal yang semakin ku tanamkan dalam diriku, dan kujadikan pemantik bara semangat ku untuk terus mencari dan menggali lubang-lubang kebodohanku demi menggapai apa yang dinamakan air dalam sumur pengetahuan. 

Jangan sampai ketergantungan padaku.

Jika sekiranya cinta yang kau tafsirkan berbeda dengan apa yang ku tafsirkan, maka sungguh akan ku ambil sikap toleran akan hal itu. Jika sekiranya pula cara pandang mu tentang mencinta pada lawan jenis yang kau muarakan pada sebuah ke-sejati-an, dan komunikasi yang mesti berjalan tak putus-putus walaupun sedetik, maka itu semua ku anggap pula sebagai kewajaran. Sebab, kadang rindu memang akan menjadi akibat dari jarangnya jalinan kebersamaan itu lagi. Ah, soal rasa yang terselubung dari dalam hatimu sebagai (perempuan), tak pernah ku mengerti. Walaupun kadang ada sejenis kode yang selalu kau munculkan sedikit-sedikit. Ini bukan persolan peka atau apalah nama lainnya.

Aku cuma bisa berpikir dan berharap,kau tak mempunyai sindrom ketergantungan akan diriku. Karena, jika itu yang terjadi maka kesedihan akan menyelubungi hati ku walaupun raga ku tak bernyawa lagi nantinya.Aku sering memikirkan akan dirimu, ketika aku tak ada lagi di dunia ini.  

Jaga etika

Di bukit sebuah pedesaan, seorang pemuda desa sedang asyik duduk sambil menunggu tibanya senja di pelukan sore seperti biasanya.  Dalam pikir sang pemuda ’ semoga mendung tak hadir pula sore ini’.  Sebab dia ingin menikmati kebimbangan dan rasa kekecewaanya di atas bukit yang sudah mulai memperlihatkan tubuhnya yang perlahan tak berambut. Sebab, rambutnya telah banyak di pangkas oleh orang-orang yang senang padanya,yang cinta padanya. Cinta?, ah omong kosong pikir pemuda itu. 

Bukit itu sebenarnya salah satu tempat yang tersisa dari akibat kerakusan manusia kota yang datang untuk mencoba mengubah wajah desa yang dulunya asri dan di tumbuhi berbagai macam pohon kehidupan. Katanya, tujuannya itu untuk membangun sebuah gedung percakar langit dan berbagai mcam pabrik dan perumahan. Tujuan yang menurut pemuda itu tidak bermanfaat  bagi warga desa. 

Tak selang beberapa jam, senja pun hadir dengan warnanya yang keemasan. Terlihat dalam imajinasi pemuda itu, senja datang dalam keadaan murung. Mungkin saja dia merasa sedih, pikir pemuda itu.  Sebab, kelak tak ada lagi yang akan menikmati kehadirannya dan menunggu kedatangannya dari atas bukit pedesaan, karena terhalang oleh gedung-gedung. Miris, yah sangat miris.

Dalam kesendirian pemuda  menikmati senja  sore itu di atas bukit, dia memikirkan keadaan desanya dikemudian hari. Bagaimana rupa atau wajah desanya  ketika gedung-gedung sudah memenuhi seluruh sudut desanya. Apakah masih ada lagi orang-orang yang ingin datang menghabiskan waktu liburnya kesana, bertamasya?. Atau mungkin sebaliknya.

Dulunya, desa itu merupakan tempat yang digemari oleh berbagai macam kalangan untuk berlibur sambil menapaki jalan menuju puncak bukit itu. Karena di atas puncak bukit itu, semua orang yang datang tersuguhkan oleh sebuah pemandangan yang menawan. Semua orang bisa melihat keramaian kota dan kerlap-kerlip lampu ketika malam hari dari puncak bukit itu. Dan yang paling menambah keelokan bukit itu, karena sampah tak pernah di temukan disekelilingnya, mungkin Karena yang datang adalah orang yang mengerti akan arti sebuah kebersihan, dimana pun itu.

Namun, perlahan bukit itu pun ikut menikmati sampah yang dibawah oleh sebagian orang yang kini sering mengunjunginya. Apa yang salah dari sikap orang-orang itu?, pikir sang pemuda. Apakah mereka sudah melupakan tentang etika ketika mengunjungi sebuah tempat yang notabene bukan miliknya secara perorangan.  Mengapa seenak hatinya saja membunag sampah dan mengotori bukit itu.

Semuanya seakan sirna, keelokan dan kebersihan bukit itu sudah hilang. Semuanya. Pemuda itu Cuma mampu meratapi nasib desanya saat ini. Sebab, tak banyak hal yang mampu dilakukaknnya untuk mengembalikan keadaan desanya  seperti dulu lagi. Meradang lah dia. Begitupun dengan warga desa yang lainnya.

Apa yah???

Di temaramnya lampu kamar ku malam ini,  aku mencoba menghibur diriku dengan kembali beranikan diri untuk berselancar kedunia lain, dimana berbaris-baris kisah yang terprosakan ada disana. Ada kisah yang begitu menginspirasiku untuk mencoba tegas dalam mengambil sikap, yaitu jangan sampai dikemudian hari akan dibodohi cuma lantaran kurangnya  menggali berbagai macam informasi dan pengetahuan saat ini. 

Dunia baru yang menurutku begitu mengasyikkan, walaupun kadang stigma terhadap orang yang menggandrunginya  selalu saja di disebut dunianya orang sok pintar. Padahal berbagai fakta atas hal tersebut kurang banyak yang terbukti dan masih perlu untuk dipertimangkan kebenarannya.

Dunia itu adalah dunia buku. Dunia yang semakin dijauhi oleh kebanyakan manusia yang menggap zaman ini sudah modern, sehingga kita tak perlu lagi membaca buku yang bentuknya fisik itu. Kan sudah ada handhopne pintar. 

Tapi bagiku, walaupun buku fisik ini sudah mulai digeser eksistensinya oleh buku dunia maya yang bermedium handhophone pintar, aku tetap selalu setia mengecap, melihat, dan mencium bau harum yang sudah menjadi sesuatu yang khas pada dirinya.

Adapun soal lain ketika ada omongan kosong yang selalu menyindir atau apalah maksudnya,  bahwa aku ini sok pintar karena sering bawa dan baca buku, aku tak pernah lagi memikirkan akan hal itu. Sebab pikir saya, tak ada faedah yang kudapat jika akan membalas omong kosong tersebut. Toh mereka tak tahu maksudku baca buku yang sesungguhnya. ‘Mereka masih hidup dalam dunia tafsir pikiran yang tak pernah mengerti akan kebenarannya yang sejati, karena tak pernah mencari kebenarannya’.

Kasih ku

Kekasih, mungkin saja saat ini tak pernah lagi terbersit dalam pikir mu untuk sekedar menuliskan setiap aktivitas yang selama ini kau lakukan. Sebab, pekerjaan membaca dan menulis ini akan sedikit menyita waktumu untuk menonton film korea ataupun bercengkarama dengan teman-teman yang hobby-nya sama denganmu. Tapi, kebiasaan mu dalam menulis itu akan tetap ku kenang, dan berharap suatu hari nanti kau akan melakukannya kembali.

Kasih, sejujurnya aku lebih suka dengan keadaan mu yang dulu. Dimana, waktu itu kau sering memberiku motivasi secara tidak lansung untuk mencintai buku dan rajin untuk membacanya. Aku masih ingat.

Sekiranya itu terjadi nantinya, maka aku akan antusias sekali untuk mengajakmu untuk berdiskusi tentang berbagai macam buku yang pernah ku baca. Tak pernah ku pungkiri, bahwa kau juga salah satu orang yang secara tidak lansung mendorongku untuk rajin menggali informasi melalui buku bacaan. Kasih, berbagai genre buku pun pernah ku baca, dan sekarang berbagai pertanyaan dan bahan untuk ku diskusikan telah tertampung dalam otakku. Akan ku keluarkan nantinya jika kelak kau kembali dari pengarungan kebiasaanmu yang sedikit bergeser ke arah nonton drama korea sekarng ini.

BERSATU

Suatu hari ,  secara tiba-tiba seorang pemuda terbangun dari tidur pulasnya. Duduk, merenung sejenak dan berpikir bahwa ” Impian akan mencapai sesuatu itu takkan mungkin terwujud dari tidur yang cuma yang menyuguhkan harum bunga didalamnya” semua mesti dilakukan di alam nyata.  Dia, memikirkan impiannya untuk bersatu dengan kekasihnya secara menyeluruh. Semuanya. Dalam hal pemikiran dan carapandang, akan dia ikutsertakan pula. Dia bermimpi, suatu kelak membuat perpustakaan mini dalam rumahnya. Dimana buku bacaannya dan buku bacaan kekasihnya itu dia satukan dalam satu ruangan. Di dalam ruang itulah nantinya mereka akan sedikit menghabiskan waktu untuk saling tukar pikiran dan berdiskusi tentang berbagai hal. Sambil minum kopi bersama. Hmmm. “Impian sederhana”, Itulah pikir dari pemuda tersebut.